A. Suku Mandar Sulawesi Barat
A. Suku
Mandar
Suku Mandar adalah suku bangsa yang menempati wilayah Sulawesi Barat, serta sebagian Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah Populasi Suku Mandar dengan jumlah Signifikan juga dapat ditemui di luar Sulawesi seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Malaysia. Pada sensus penduduk tahun 1980 didapati bahwa terdapat 300.000 orang Mandar di Sulawesi Selatan, tetapi ini lebih menunjukkan jumlah penutur bahasa Mandar pada tahun itu kabupaten Majene,Mamasa, dan Mamuju penutur bahasa Mandar juga banyak, maka angkanya akan lebih dari 300.000 jiwa di tiga kabupaten, Majene,Mamasa dan Mamuju pada waktu itu, karena sensus tahun 1980 menunjukkan jumlah penduduk Majene 120.830, Mamasa 360.384,Mamuju 99.796 sedangkan Makassar 709.000.
Suku Mandar adalah suku bangsa yang menempati wilayah Sulawesi Barat, serta sebagian Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah Populasi Suku Mandar dengan jumlah Signifikan juga dapat ditemui di luar Sulawesi seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Malaysia. Pada sensus penduduk tahun 1980 didapati bahwa terdapat 300.000 orang Mandar di Sulawesi Selatan, tetapi ini lebih menunjukkan jumlah penutur bahasa Mandar pada tahun itu kabupaten Majene,Mamasa, dan Mamuju penutur bahasa Mandar juga banyak, maka angkanya akan lebih dari 300.000 jiwa di tiga kabupaten, Majene,Mamasa dan Mamuju pada waktu itu, karena sensus tahun 1980 menunjukkan jumlah penduduk Majene 120.830, Mamasa 360.384,Mamuju 99.796 sedangkan Makassar 709.000.
Mandar ialah suatu kesatuan etnis yang berada di Sulawesi
Barat. Dulunya, sebelum terjadi pemekaran wilayah, Mandar bersama dengan etnis
Bugis, Makassar, dan Toraja mewarnai keberagaman di Sulawesi Selatan. Meskipun
secara politis Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan diberi sekat, secara
historis dan kultural Mandar tetap terikat dengan “sepupu-sepupu” serumpunnya
di Sulawesi Selatan. Istilah Mandar merupakan ikatan persatuan antara tujuh
kerajaan di pesisir (Pitu Ba’ba’na Binanga) dan tujuh kerajaan di gunung (Pitu
Ulunna Salu). Keempat belas kekuatan ini saling melengkapi, “Sipamandar”
(menguatkan) sebagai satu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan oleh
leluhur mereka di Allewuang Batu di Luyo.
Rumah
adat suku Mandar disebut Boyang. Perayaan-perayaan adat
diantaranya Sayyang Pattu'du (Kuda Menari), Passandeq(Mengarungi
lautan dengan cadik sandeq),
Upacara adat suku Mandar , yaitu "mappandoe' sasi" (bermandi laut).
Makanan khas diantaranya Jepa, Pandeangang Peapi, Banggulung Tapa, dll.
Mandar
dapat berarti tanah Mandar dapat juga berarti penduduk tanah Mandar atau suku
Mandar
pada
akhir abad 16 atau awal abad 17 negeri negeri Mandar menyatukan diri menjadi
sebuah negeri yang lebih besar, yaitu tanah Mandar yang terdiri dari Pitu
Ulunna Salu dan Pitu Babana Binanga, Pitu Babana Binanga lah yang terkenal
dengan armada laut Mandar dalam perang Gowa-Bone diabad ke17.
Suku
Mandar terdiri atas 17 (kerajaan) kerajaan, 7 (tujuh) kerajaan (lebih mirip
republik konstitusional dimana pusat musyawarah ada di Mambi) hulu yang disebut
"Pitu Ulunna Salu", 7 (tujuh) kerajaan muara yang disebut "Pitu
ba'bana binanga" dan 3 (tiga) kerajaan yang bergelar "Kakaruanna
Tiparittiqna Uhai".
Tujuh
kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Ulunna Salu
adalah :
1.
Kerajaan Rante Bulahang
2.
Kerajaan Aralle
3.
Kerajaan Tabulahan
4.
Kerajaan Mambi
5.
Kerajaan Matangnga
6.
Kerajaan Tabang
7.
Kerajaan Bambang
Tujuh
kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Baqbana Binanga
adalah :
1.
Kerajaan Balanipa
2.
Kerajaan Sendana
3.
Kerajaan Banggae
4.
Kerajaan Pamboang
5.
Kerajaan Tapalang
6.
Kerajaan Mamuju
7.
Kerajaan Benuang
Kerajaan
yang bergelar Kakaruanna Tiparittiqna Uhai atau wilayah Lembang Mappi namun
sekarang adalah bagian dari kerajaan Balanipa, adalah sebagai berikut :
1.
Kerajaan Allu
2.
Kerajaan Tuqbi
3.
Kerajaan Taramanuq
Di
kerajaan-kerajaan Hulu pandai akan kondisi pegunungan sedangkan
kerajaan-kerajaan Muara pandai akan kondisi lautan. Dengan batas-batas sebelah
selatan berbatasan dengan Kab. Pinrang, Sulawesi
Selatan, sebelah timur berbatasan dengan
Kab. Toraja, Sulawesi
Selatan, sebelah utara berbatasan
dengan Kota Palu, Sulawesi
Tengah dan sebelah barat dengan selat
Makassar.
Sepanjang
sejarah kerajaan-kerajaan di Mandar, telah banyak melahirkan tokoh-tokoh
pejuang dalam mempertahankan tanah melawan penjajahan VOC,Belanda seperti: Imaga Daeng Rioso, Puatta i sa'adawang,
Maradia Banggae, Ammana iwewang, Andi Depu, meskipun pada akhirnya wilayah
Mandar berhasil direbut oleh Belanda.
Dari
semangat suku Mandar yang disebut semangat "Assimandarang" sehingga
pada tahun 2004 wilayah Mandar menjadi salah satu provinsi yang ada di
Indonesia yaitu provinsiSulawesi
Barat.
B. Suku Bugis
Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis. Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau. Disamping itu orang-orang Bugis juga banyak ditemukan di Malaysia dan Singapura yang telah beranak pinak dan keturunannya telah menjadi bagian dari negara tersebut. Karena jiwa perantau dari masyarakat Bugis, maka orang-orang Bugis sangat banyak yang pergi merantau ke mancanegara.
C. Suku Jawa
Suku Jawa (Bahasa Jawa Ngoko: ꦮꦺꦴꦁꦗꦮ Wong Jawa, Krama: ꦠꦶꦪꦁꦗꦮꦶ Tiyang Jawi) merupakan suku bangsa terbesar diIndonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Sebelumnya suku Jawa berjumlah 47,05% pada tahun 1930 yang diadakan oleh pemerintahan kolonial Belanda pada waktu itu. Penurunan ini terjadi karena banyaknya orang Jawa yang menjadi bagian dari etnis setempat di beberapa daerah di Indonesia. Selain di ketiga provinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Jakarta, Sumatera Utara, Riau,Sumatera Selatan, Banten dan Kalimantan Timur. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, dan Kota Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti Suku Osing, Orang Samin, Suku Tengger, dan lain-lain. Selain itu, suku Jawa ada pula yang berada di negara Suriname, Amerika Selatan karena pada masa kolonial Belanda suku ini dibawa ke sana sebagai pekerja dan kini suku Jawa di sana dikenal sebagai Jawa Suriname.
D. Suku Pattae
Suku Pattae adalah salah satu suku yang terdapat di Sulawesi
Barat, mereka tersebar di kabupaten Polewali Mandar, di beberapa kecamatan,
misalnya di kecamatan Binuang dan Anreapi. Persebaran orang-orang Pattae juga
ditemukan di bagian Matangnga. Untuk mengenali suku ini, maka masyarakat suku
Pattae menggunakan bahasa Pattae sebagai bahasa pengantar mereka sehari-hari,
bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa lainnya di wilayah Mandar, Sulawesi
Barat.
Untuk mengenal budaya, tradisi dan kebiasaan orang-orang di
suku ini, maka daerah yang kental dengan Pattae adalah desa Batetangnga yang
terletak di kecamatan Binuang Kabupaten Polman, desa sejuk yang dapat diakses
dari jalur jalan utama poros Binuang-Paku. Desa ini berjarak sekitar 7 km dari
pusat kota kab. Polman, dengan potensi perkebunan dan pertanian yang cukup
luas. Dusun Kanang, Desa Batetangnga dikenali sebagai pusat penghasil buah
durian, langsat, dan rambutan. Buah-buah dari dusun ini mudah dijumpai dijual
di jalur jalan trans Sulawesi Barat, sering dijadikan sebagai tempat
persinggahan bagi mereka yang ingin menikmati buah-buahan dan membeli buah
tangan untuk keluarga.
Suku Pattae dekat dengan budaya dan tradisi Islam, mereka
merupakan penganut ajaran agama Islam yang taat, hal ini tercermin dari
kegiatan-kegiatan dan kebiasaan yang dilakukan kental dengan agama Islam. Jika
melakukan perekaman jejak sejarah masa lalu maka orang-orang suku Pattae adalah
mereka yang membentuk dan masuk kedalam wilayah pemerintahan kerajaan Binuang,
salah satu kerajaan lokal yang masuik dalam kelompok perserikatan PBB “Pitu
Baqbana Binanga” kelompok tujuh kerajaan yang ada di pesisir. Kalau kemudian
tradisi Islam kental di kecamatan Binuang, hal ini dapat dikatakan wajar,
karena menurut sejarah masuknya Islam di wilayah Mandar, Sulawesi Barat, maka
daerah ini menjadi tempat bermukim penganjur agama Islam pertama di Mandar
yaitu Syekh Abdul Rahim Kamaluddin, yang diberi gelar “Tuanta Di Binuang”
Beberapa pendapat menjelaskan orang-orang suku Pattae dekat
dengan budaya Toraja, bahasa tutur yang digunakan juga mirip dengan bahasa
Toraja, namun pendapat lain menyebutkan mereka termasuk kedalam sub suku Mandar
Pattae. Beberapa warga lokal Pattae enggan dikatakan bahwa kebudayaan mereka
dekat dengan Toraja, karena jika dilihat dari pakaian adat daerah Pattae maka
sangat berbeda dengan pakaian yang dimiliki oleh Toraja ataupun Mamasa. Orang-orang di Pattae Anreapi dan Pattae Dara
lebih menganggap mereka adalah bagian besar dari keluarga Mandar.
E. Suku Pannai
Suku Pannei merupakan suku
yang berada di Sulawesi Barat dan sebagian juga berada di Sulawesi Selatan.
Suku Pannei saat ini diperkirakan memiliki populasi sebesar 250.000 orang.
Kehidupan masyarakat suku Pannei ini pula pada umumnya berprofesi sebagai
petani. Mereka mengelola tanaman padi di sawah. Sebagian dari mereka juga ada
yang memilih profesi sebagai nelayan. Selain itu beberapa dari mereka menjadi
perajin yang menghasilkan beragam jenis kerajinan.





Komentar
Posting Komentar